Kamis, 08 April 2021

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

S

esal dahulu pendapantan sesal kemudian tiada guna adalah sebuah pribahasa yang terkadang sering kita dengar. Pribahasa tersebut mengandung arti  “hendaknya berpikir masak-masak sebelum membuat suatu keputusan “. Kaitannya dengan itu didalam dunia pendidikan tentunya kita tidak ingin menyesal dikemudian hari dalam mengambil dan menetapkan sebuah keputusan. Sehingga perlu memikirkan secara matang setiap mengambil keputusan.

Dalam mengambil sebuah keputusan tentunya ada pertentangan yang akan dialami. Pertentangan inilah yang dinamakan dengan dilema. Dalam kamus Bahasa Indonesia dilema murupakan situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan. Orang yang berada pada situasi seperti ini tentunya memerlukan sebuah pemikiran yang matang sekali dalam menetukan pilihan mana yang akan diambil.

Secara umum dilima ini dikelompokkan menjadi dua yaitu dilima etika dan bujukan moral. Dilima etika merupaka situasi benar vs benar. Artinya bahwa situasi yang terjadi ketika sesorang harus memilih diantara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentengan. Misalnya ketika orang menentukan pilihan antara aturan dengan kasihan. Adalah benar jika orang tersebut memilih atauran dan mengenyampingkan rasa kasihan untuk menegakkan aturan sebagai rasa hormat terhadap keadilan. Dan benar juga jika orang tersebut membengkokkan aturan sebagai bentuk rasa kasihan atau kebaikan

Sedangkan bujukan moral murupakan situasi benar vs salah. Arinya adalah situasi yang terjadi ketika sesorang membuat keputusan antara benar atau salah. Misalnya berbohong untuk melindungi sesorang. Walaupun tujuannya baik berbohong tetap tidak dibenarkan. Nah sekarang sudah seyogyanya kita dalam mengambil sebuah keputusan terlebih dahulu membedakan apakah dilima yang kita hadapi ini termasuk dalam kategori dilima etika atau bujukan moral.

Dalam dunia pendidikan dilima etika adalah hal berat yang harus dihadapi. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan  akan hidup. Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  4. Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term)

Keempat kategori ini adalah pola umum yang sering muncul dalam dilima etika yang sering dihadapi. Sehingga perlu kiranya mengetahui pola-pola yang terjadi ketika menetapkan sebuah keputusan agar selanjutnya dapat menentukan langkah-langkah berikutnya dalam penentapan keputusan.

Etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Sehingga setelah mengetahui pola yang terjadi selanjutnya perlu menentukan prinsip yanga akan digunakan dalam pengambilan keputusan. Ada tiga prinsip yang paling sering dikenali dan digunakan dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut adalah:

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Setelah menegtahui pola dan prinsip yang digunakan dalam menetukan pilihan terhadap dilima etika yang dihadapi selanjutnya dapat menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan sehingga keputusan yang akan diambil akan menjadi keputusan yang terbaik. 9 langkah ini dapat diuraikan sebagai berikut: 

1.       Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama serta  akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial. 

2.       Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu perlu selanjutnya untuk mengetahui dilema siapakah ini.

3.       Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Dalam pengambilan keputusan yang baik tentunya membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya.

4.       Pengujian benar atau salah

    • Uji Legal

Pertanyaan dasar yang harus diajukan adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah.

  • Uji Regulasi/Standar Profesional

Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada pelanggaran peraturan atau kode etik. 

  • Uji Intuisi

Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi kita dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini.

  • Uji Halaman Depan Koran

Apa yang kita akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dimana sesuatu yang kita anggap merupakan ranah pribadi kita tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat.

  • Uji Panutan/Idola

Dalam langkah ini, kita akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan kita, misalnya ibu kita. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu kita, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi kita dan orang yang sangat berarti bagi kita.

5.       Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi yang kita alami

6.       Melakukan Prinsip Resolusi

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang kira-kira yang akan dipakai

7.       Investigasi Opsi Trilema

Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini.

8.       Buat Keputusan

Titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.

9.       Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.


Dari ketiga uraian langkah mengambil keputusan, seyogyanya kita yang terlibat dalam dunia pendidikan hendaknya menerapkan langkah-langkah tersebut ketika kita pada kondisi atau keadaan dalam mengambil dan menetapkan sebuah keputusa.

Berdasarkan uraian diatas ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan dan jawaban pribadi terkait dengan keempat uraian materi (dilima etika dan bujukan moral, paradigm delima etika, prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan) tersebut, diantaranya sebagai berikut:

1.       Apa rencana ke depan dalam menjalani pengambilan  keputusan yang mengandung unsur dilema etika?

Jawaban: Kedepan setiap pengambilan keputusan yang mengandung unsur delima etika akan mencoba pelan-pelan dalam menerapkan prinsip pengambilan keputusan, paradigma delima etika dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga nanti akan menjadi sebuah kebiasaan dalam menerpakan ketiga materi tersebut dalam mengambil sebuah keputusan


2.       Bagaimana saya bisa mengukur efektivitas pengambilan keputusan saya?

Jawaban: Efektivitas pengambilan keputusan dapat diikur dari dua hal. Pertama bahwa keputusan yang telah ditetapkan kemudian dijalan tidak akan menimbulkan penyelesalan dikemudian (sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tiada guna). Kedua bahwa keputusan yang diambil dapat memberikan dampak yang positif bagi diri pribadi maupun bagu lingkungan sekitar

  

3.       Siapa yang akan membantu atau mendampingi saya?

Jawaban: Yang akan membantu saya adalah beberapa rekan guru dan kepala sekolah jika menyangkut urusan kelas dan lingkungan sekolah. Sedangkan jika menyangkut pengambilan keputusan dilingkungan keluaraga tentunya sitri dan orang tua



4.   Bagaimana saya nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal saya?

Jawaban: Ilmu yang diperoleh akan ditransfer dan diterapkan pada komunitas kecil (komunitas praktisi) yang coba dirintis disekolah. Selain itu ilmu yang diperoleh ini akan diterapkan secara perlahan-lahan mulai dari hal yang kecil yakni dikelas-kelas tempat mengajar kemudian selanjutnya menyangkut sekolah


5.   Apa langkah-langkah awal yang akan say lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

Jawaban: Langkah awal yang dilakukan adalah mulai memberanikan diri untuk mencoba menerapkan 3 materi yakni prinsip pengambilan keputusan, paradigma delima etika dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga harapan kedepan akan tertanam pada diri dan akan menjadi sebuah kebiasaan dalam mengambilan keputusan

 

6.    Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa?

Catat rencana, sehingga saya tidak lupa.

Jawaban: Langkah-langkah tersebut akan saya coba diterapkan setiap hari tentunya ketika sedang mengahdapi delima etika.

 


7.    Siapa yang akan menjadi pendamping saya, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi saya untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.


Jawaban:
Yang menjadi pendamping saya adalah beberapa rekan guru yang beberapa bulan ini bisa di ajak untuk menjalankan program guru penggerak serta kepala sekolah.

 

Selasa, 16 Februari 2021

Penanaman Sikap Peduli Melalui Gerakan LIBAS (Lihat amatI Beri Aksi atau Solusi)

 Latar Belakang

SMAN 1 Labuhan Haji memiliki lahan yang sangat luas (±3,2 hektar) sehingga membutuhkan tenaga dan biaya yang besar untuk mengawasi dan mengelolanya. Dari ±3,2 hektar masih tersisa lahan 1,5 hektar yang belum dibangun. Disamping adanya lahan yang masih kosong, bangunan-bangunan di SMAN 1 Labuhan Haji sebagian besar bangunan tua. Misalnya dari 24 ruang kelas yang dimiliki, 13 ruang adalah bangunan lama yang berusia 29 tahun. Begitu juga dengan ruangan yang lainnya rata-rata berusia 29 Tahun

Luas lahan SMAN 1 Labuhan Haji yang sangat luas dan masih banyak lahan yang kosong dan bannyak bangunan yang berusia tua merupakan tantangan yang terberat setiap kepala sekolah yang bertugas di SMAN 1 Labuhan Haji untuk mebangun infrastruktur. Salah satu infrastruktur yang terabaikan dan menjadi usulan murid pada aksi nyata sebelumnya adalah tempat parkir murid. Tempat parkiran murid masih beratapkan langit dan berlantaikan tanah. Ditambah lagi hampir 65% murid membawa motor kesekolah. Sehingga ketika menjelang siang sebagian besar motor murid berada di terik matahari dan ketika musim hujuan seluruh motor murid basah.

Untuk memenuhi usulan murid kaitannya dengan tempat parkir dalam waktu dekat, sekolah belum bisa melaksanakannya. Hal ini disebabkan karena ada program-program prioritas yang harus dilaksanakan. Oleh sebab itu diperlukan sebuah solusi sebagai upaya nyata sekaligus memulai menanamkan budaya positif kepada murid untuk dapat meberikan kontribusi kepada sekolah. Salah satunya adalah melalui gerakan LIBAS (Lihat amatI Beri Aksi atau Solusi). Gerakan LIBAS yang dilakukan adalah mengajak murid untuk melakukan penanaman pohon di area parkir murid sehingga beberapa tahun kedapan parkiran murid akan rindang.

Melalui gerakan LIBAS ini, penulis berharap semua pihak yang ada disekolah dapat melakukan hal-hal kecil disemua aspek tetapi meberikan manfaat yang nyata bagi sekolah. Selain itu gerakan LIBAS ini merupakan salah satu bentuk budaya positif sebagai upaya untuk menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar.


Aksi Nyata Yang Dilakukan

Aksi nyata yang dilakukan oleh penulis adalah mencoba menumbuhkan budaya peduli terhadap lingkungan sekitar melalui gerakan LIBAS (Lihat amatI Beri Aksi atau Solusi). Aksi nyata gerakan LIBAS ini dilakukan sebagai solusi kecil tetapi memberikan mamfaat besar bagi murid dan sekolah. Gerakan LIBAS kali ini difokuskan pada penghijauan area parkir murid sehingga kedepan diharapkan area parkir murid akan rindang dengan adanya pohon-pohon yang ditanam. Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam aksi nyata ini sebagai berikut:

1.    Menyampaikan rencana yang akan dilakukan kepada kepala sekolah terkait gerakan LIBAS yang akan dilakukan

2.    Berkolaborasi dengan wakil kepala sekolah urusan kesiswaan dan pembina Osis kaitannya dengan program LIBAS

3.    Melakukan rapat kecil dengan murid (perwakilan kelas/Pengurus Osis) terkait rencan pelaksanaan gerakan LIBAS yakni penghijauan area parkir murid

4.    Menentukan pohon yang akan ditanam (dalam hal ini disepakati pohon sejenis anggur dan jambu monyet)

5.    Menginformasikan kepada kepada wali kelas untuk meminta perwakilan masing-masing kelas mebawa bibit pohon yang telah disepakati masing-masing kelas satu buah bibit pohon

6.    Melakukan penanaman pohon

Uraian diatas dalah langkah-langkah aksi nyata yang dilakukan oleh penulis sebagai upaya memulai membangun budaya positif dikalangan guru maupun murid. Alasan penulis melakukan aksi nyata ini adalah:

1.    Menanamkan budaya poitif kepada muird

2.    Mengajak murid untuk melakukan hal-hal yang kecil tetapi memberikan banyak manfaat

3.    Menumbuhkan budaya peduli terhadap lingkungan sekitar

4.    Mengajak murid untuk memberikan kontribusi nyata kepada sekolah

5.    Melatih murid untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan program sekolah


Hasil Dari Aksi Nyata

Hasil dari aksi nyata yang dilakukan oleh penulis adalah mulai menumbuhkan budaya positif dikalangan murid melalui gerakan LIBAS (Lihat amatI Beri Aksi atau Solusi). Salah satunya adalah mengajak murid untuk melakukan atau memberikan aksi atau solusi dilingkungan sekolah terkait lahan parkir murid. Aksi dan solusi yang diberikan atau dilakukan adalah membuat rindang lahan parkir murid melalui gerakan LIBAS penanaman pohon. Hal ini dilakukan selain sebagai penanaman budaya positif, penanaman pohon ini juga sebagai bentuk solusi untuk melakukan perubahan dilingkungan sekolah jika sekolah tidak memiliki anggaran dalam melakukan sebuah pengembangan


Pembelajaran Yang Didapat Dari Pelaksanaan

Dari pelakasanaan aksi nyata ini, pembelajaran yang penulis dapatkan adalah murid bisa digerakkan untuk melakukan budaya positif yakni peduli terhadap lingkungan sekolah dalam hal ini melakukan gerakan LIBAS dalam rangka penghijauan atau membuat rindang area parkir murid. Akan tetapi dalam melakukan gerakan LIBAS ini murid masih belum terbiasa memberikan aksi atau solusi akan hal-hal yang mereka amati. Murid masih menunggu guru untuk menggerakkannya. Selain itu guru tidak bisa menggerakkan semua murid dan semua pihak yang ada disekolah karena masih adanya atauran untuk tidak mendatangkan seluruh murid kesekolah. Sehingga sebagai akibat dari tidak menggerakkan semua murid dan semua pihak, setelah gerakan LIBAS dilakukan kaitannya dengan penanaman pohon di area parkir murid beberapa tanaman yang ditanam tidak tumbuh karena tidak ada perawatan secara rutin walaupun kegiatan ini dilakukan ketika musim hujan.


Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Dalam melaksanakan gerakan LIBAS (Lihat amatI Beri Aksi atau Solusi) hendaknya melibatkan semua pihak. Sehingga semua pihak akan tahu dan bisa memberikan respon setelah kegiatan LIBAS dilaksanakan. Selain itu juga perlu secara konsisten melakukan kegiatan LIBAS ini disegala aspek sehingga akan terbentuk budaya positif disekolah melalui gerakan Lihat amatI Beri Aksi atau Solusi


Dokumentasi

Foto Saat Merencanakan Gerakan LIBAS Penghijauan Area Parkiran Murid





Foto Saat Pelaksanaan Gerakan LIBAS Penghijauan Area Parkiran Murid









Kamis, 28 Januari 2021

MENCIPTAKAN PROGRAM SEKOLAH YANG BERPIHAK KEPADA MURID

 Latar Belakang

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menjelaskan bahwa sekolah harus membuat rencana kerja berupa Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu empat tahun dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang dinyatakan dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) dilaksanakan berdasarkan rencana kerja jangka menengah. Rencana Kerja Sekolah (RKS) akan memberikan banyak peluang bagi kepala sekolah dalam mengelola segala sumber daya yang ada di sekolah dengan cara yang terbaik, efektif dan efisien, untuk mendapatkan prestasi terbaik, memberikan pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didik

Dalam pemyusunan Rencana Kerja Sekolah ini harus memperhatikan kondisi ideal dan kondisi riil sebuah sekolah. Kondisi ideal adalah kondisi minimal setiap komponen atau sub komponen yang sesuai tuntutan  Standar Nasional Pendidikan yang diharapkan dipenuhi oleh sekolah. Sedangkan kondisi riil merupakan kondisi sesungguhnya yang dimiliki oleh sekolah yang meliputi kekuatan maupun kelemahannya. Selain itu pelibatan murid juga tidak kalah pentingnya dalam penyusunan RKS. Sehingga dengan melibatkan murid akan terbentuk program-program sekolah yang nantinya berpihak kepada murid.

Selama ini penyusunan Rencana Kerja Sekolah di SMA Negeri 1 Labuhan Haji tidak pernah melibatkan murid. Sehingga apa yang menjadi keinginan murid terkadang tidak tertuang dalam RKS baik pada RKJM maupun RKT. Oleh sebab itu melalui kesempatan ini dan kebetulan menjelang tahun anggaran baru yakni tahun anggaran 2021 penulis ingin mencoba memulai melibatkan murid dalam menyusun program sekolah satu tahun kedepan sehingga diharapkan akan tercipta program-program sekolah yang berpihak kepada murid.

 

Aksi Nyata Yang Dilakukan

Aksi nyata yang dilakukan oleh penulis adalah memulai melibatkan murid dalam penyususnan program sekolah. Salah satunya adalah pelibatan murid dalam penyusunan RKT/RKAS Tahun Anggaran 2021. Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam aksi nyata ini sebagai berikut:

  1. Menyampaikan rencana yang akan dilakukan kepada kepala sekolah terkait pelibatan murid dalam penyusunan RKT/RKAS tahun anggaran 2021
  2. Berkolaborasi dengan wakil kepala sekolah urusan kesiswaan dan pembina Osis kaitannya dengan pengumpulan perwakilan tiap kelas (murid masih belajar dari rumah)
  3. Mengundang perwakilan tiap kelas (ketua kelas dan pengurus osis) untuk datang ke sekolah via WA
  4. Menjelaskan kepada murid secara singkat tentang RKT/RKAS
  5. Meminta ide dari murid terkait keingin yang meraka harapkan pada tahun anggaran 2021
  6. Mencatan ide-ide yang diutarakan oleh murid
  7. Menyampaikan ide-ide yang diutarakan oleh murid kepada kepala sekolah guna dibicarakan pada saat penyusunan draf RKT/RKAS tahun anggaran 2021
  8. Mengundang murid dalam rapat pleno penetapan RKT/RKAS tahun anggaran 2021 (belum terlaksana karena diperkirakan akan dilakukan akhir Januari atau awal Februari 2021)

Uraian diatas dalah langkah-langkah aksi nyata yang dilakukan oleh penulis. Alasan penulis melakukan aksi nyata ini adalah:

  1. Mulai melibatkan murid dalam penyusunan program sekolah sehingga akan tercipta program-program sekolah yang berpihak kepada murid
  2. Melatih murid untuk menyapiakan ide-ide yang sifatnya membangun sekolah
  3. Murid dan semua stakeholder sekolah mengetahui arah penggunaan anggran sekolah
  4. Menanamkan pemikirian postif kepada semua stakeholder untuk terbiasa melibatkan murid dalam pengambilan keputusan atau kebijakan.

Hasil Dari Aksi Nyata

Hasil dari aksi nyata yang dilakukan oleh penulis adalah berupa usulan-usulan murid yang diharapkan bisa dituangkan dalam RKT pada tahun anggaran 2021. Usulan ini nanti akan disampaikan kepada kepala sekolah sehingga pada saat penysusunan RKT/RKAS tahun anggaran 2021 pada bulan Desember 2021 – Januari 2021 usulan murid ini dapat dituangkan dalam RKT/RKAS Tahun Anggaran 2021. Usulan-usulan itu sebagai berikut:

  1. Pemasangan Kipas Angin, Jam dinding, Serokan Sampah, Pengharum Ruangan, LCD Proyektor, Etalase/Lemari tempat mukenah dan Galon Tiap Kelas
  2. Perbanyak titik Wifi Untuk Murid
  3. Perbaiki dan perbanyak papan mading
  4. Perbaikan Ruang Osis, Ruang Pramuka, Ruang PMR, Ruang Paskib, Ruang UKS, Parkiran, dan Musahlla
  5. Pengadaan alat musik Hadrah dan Drum Band
  6. Perbanyak Novel atau buku non pelajaran
  7. Perbaiki Kursi atau Meja Guru dan siswa dikelas
  8. Kantin diperbanyak makanan
  9. WC diperbanyak dan dijaga kebersihannya
  10. Penyediaan sabun, pengharum dan cermin tiap kamar mandiPembgadaan Almamater OSIS
  11. Kegiatan pembelajaran pada semester genap TP. 2020-2021 jika diadakan secara terbatas pertemuannya setiap hariPembuatan pakaian dinas upacara
  12. Pemasangan Runing Text di gerbang sekolahTempat wudu diperbanyak
  13. Diadakan kegiatan bermain diluar kelas setiap bulan/PHBI/PHBN

 

Pembelajaran Yang Didapat Dari Pelaksanaan

Dari pelakasanaan aksi nyata ini, pembelajaran yang penulis dapatkan adalah murid berani menyampaikan usulan-usulan atau keinginannya kaitannya dengan program sekolah satu tahun kedepan. Akan tetapi usulan yang disampaikan oleh murid dominan kaitannya dengan standar sarana dan prasarana sedangkan standar pendidikan yang lainnya masih diabaikan. Selain itu juga dalam penyampaian usulan didapatkan beberapa usulan murid yang terkesan bermain-main seperti “bebaskan iuran SPP”.  Hal ini disebabkan karena baru pertama kali ini murid terlibat dan diberikan kesempatan dalam penyusunan RKT/RKS sehingga perlu pengarahan dalam proses murid menyampaikan usulan program.  

 

Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Penyusunan RKT/RKAS rutin dilaksanakan setiap tahun. Oleh sebab itu kedepan dalam penyusunan RKT/RKAS yang melibat murid hendaknya terlebih dahulu memaparkan kepada murid tentang capaian-capaian sekolah pada tahun sebelumnya sehingga murid dapat memberikan usulan-usulan terbaik tentang program sekolah. Selain itu perlu melibatkan murid secara konsisten dalam penyusunan program sekolah yang lainnya. Sehingga dengan melibatkan murid nantinya akan terbentuk program-program sekolah yang berpihak pada murid

 

  Dokumentasi


Foto Saat Meminta Ide atau Gagasan Dari Murid

 






Foto Penyerahan Ide Murid Kepada Kepala Sekolah



 

 

 

 

 

 

Kamis, 03 Desember 2020

MENDESAIN PEMBELAJARAN YANG BERPIHAK PADA MURID SESUAI KODRAT ZAMAN

 Latar Belakang

Berdasarkan hasil angket yang yang disebar ke guru SMAN 1 Labuhan Haji tentang penilaian yang dilakukan selama pandemi Covid-19, 33% guru SMA Negeri 1 Labuhan Haji tidak melakukan penilain keterampilan. 33% guru yang tidak melakukan penilai keterampilan ini sebagian besar memberikan beberapa alasan bahwa guru  tidak bisa menilai keterampilan secara tidak langsung (tidak tatap muka) dan banyak murid yang tidak aktif jika melakukan penilai keterampilan secara daring. Hal ini juga sejalan dengan respon yang diberikan oleh murid. Dimana 82% murid tidak pernah melakukan kegiatan pembelajaran yang melatih keterampilan mereka.

Berdasarkan kondisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa selama pandemi ini murid kurang dilatih untuh mengembangkan keterampilannya. Padahal sejak kurikulum 2013 diberlakukan guru dituntut untuk mengembangkan keterampilan murid disamping mengembangkan pengetahuan dan sikap. Apalagi bila dikaitkan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa salah satu kodrat yang tidak bisa diubah adalah kodrat jaman. Sehingga dalam kondisi apapun baik kondisi normal maupun pandemi guru tetap dituntut untuk melakukan pembelajaran sesuai dengan kodrat jaman

Salah satu pembelajaran sesuai kodrat jaman adalah pembelajaran yang melatih keterampilan abad XXI. Paradigma pembelajaran abad XXI menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Sehingga walaupun kondisi pandemi pembelajaran yang melatih keterampilan abad XXI tetap bisa dilakukan dengan berbagai cara (daring atau luring) maupun dimanapun murid berada (disekolah, dirumah, dan dimasyarakat). Hal ini sesuai dengan penjelasan pada Permendikbud No 22 Tahun 2016 bahwa prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pembelajaran abad XXI dianataranya pembelajaran dapat berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat serta memanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efiseinsi dan efektivitas pemebelajaran.

Dari uraian diatas penulis melakukan aksi nyata untuk memberikan pemikiran positif kepada guru lain untuk tetap melakukan kegiatan pembelajaran yang melatih keterampilan abad XXI pada kondisi pandemi. Model pembelajaran yang diaplikasikan dalam pembelajaran abad XXI adalah model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Pembelajaran  PjBL yang dilakukan pada kondisi pandemi ini dilakukan secar daring dan luring serta mencoba memerdekakan murid dalam pembelajaran. Sehingga dengan menerepakan pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dengan prinsip merdeka, murid akan aktif belajar secara daring sekaligus penulis dapat  menjalankan paradigma pembelajaran abad XXI dan menjalan prinsip pembelajaran sesuai dengan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016.

 

Aksi Nyata Yang Dilakukan

Aksi nyata yang dilakukan oleh penulis adalah mendesaian dan melaksanakan pembelajaran yang melatih keterampilan abad XXI pada kondisi pandemi dengan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam aksi nyata ini sebagai berikut:

1.    Analisis Kompetensi Dasar Yang Ada Di Kurikulum

Pada tahap awal penulis melakukan anilisis kompetensi dasar yang ada di Kurikulum sekolah yang nantinya akan dijadikan Kompetensi Dasar untuk melakukan aksinyata yaitu menciptakan pembelajaran yang menerapkan keterampilan abad XXI  dengan model project based learning. Dari hasil analisis yang dilakukan didapatkan kesimpulan sementara bahwa kompetensi dasar yang akan diterapkan pada aksi nyata adalah kompetensi dasar kelas XI semester ganjil tahun pelajaran 2020-2021. Kompetensi dasar yang diambil ada 3 pilihan yaitu:

4.2     Membuat karya yang menerapkan konsep titik berat dan kesetimbangan benda tegar

4.3     Melakukan percobaan tentang sifat elastisitas suatu bahan berikut presentasi hasil percobaan dan pemanfaatannya

4.4    Merancang dan melakukan percobaan yang memanfaatkan sifat-sifat fluida, berikut presentasi hasil percobaan dan pemanfaatannya

Pemilihan ketiga kompetensi dasar ini berdasarkan pada pertimbangan bahwa bahan, benda, atau alat-alat yang merapkan konsep pada masing-masing kompetensi dasar tersebut mudah dijumpai dilingkungan peserta didik

2.    Kolaborasi dengan guru lain

Tahap selanjutnya melakukan kolaborasi dengan berdiskusi sesama guru. Kebutalan disekolah ada guru fisika lain yang lebih senior dari saya. Salain itu pada tahun 2018 beliau diundang oleh P4TK IPA Bandung untuk mengikuti diklat pembelajaran STEM dan pernah mengimbaskan ke forum MGP Fisika Lombok Timur. Berdasarkan diskusi yang dilakukan dan pengalaman beliau dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang melatih keterampilan abad XXI peserta didik, maka beliau mendukung pemilihan ketiga kompetensi dasar yang telah dipilih tersebut. Selain memberikan dukungan beliau juga meberikan informasi bahwa dalam pelaksanaannya nanti penerapan pembelajaran yang melatih keterampilan adab XXI nantinya membutuhkan waktu yang relatif lama sehingga lebih pandai dalam mengatur waktu dan teknologi. Apalagi pada masa pandemi covid-19 kegiatan pembelajaran tatap muka di tiadakan, sehingga teknolgi sangat dibutuhkan dalam melaksanakan aksi nyata ini

3.    Kesepakatan Penentuan Salah Satu KD Untuk Dijadikan Proyek Sederhana

Selanjutnya penulis meminta kepada murid untuk memilih salah satu KD sesuai dengan keinginan masing-masing. Untuk aksi nyata kali ini penulis menggunakan dua kelas dengan jumlah murid 62. Karena kegiatan pembelajaran tatap muka masih dilaksanakan secara terbatas, penulis menggunakan google form dalam penentuan salah satu KD yang diinginkan oleh murid untuk dijadikan proyek sederhana. Selain menggunakan google form penulis meminta murid untuk datang kesekolah bagi yang tidak memiliki akses internet dalam penentuan KD untuk dijadikan proyek sederhana.

4.  Kesepakatan Bentuk Pelaporan Proyek Yang Dikumpulkan dan Batas Waktu Pengumpulan

Setelah murid menentukan sendiri KD yang dijadikan proyek sederhana, selanjutnya murid diminta untuk menentukan bentuk proyek yang akan dikumpulkan serta batas waktu pengumpulan. Kebetulan ketika melakukan pembelajaran tatap muka terbatas disekolah ada jadwal fisika dikelas tempat melakukan aksi nyata. Kesempatan inilah yang digunakan penulis untuk menelusuri murid yang belum menentukan salah satu KD yang akan dijadikan proyek sederhana sekaligus penentuan bentuk proyek yang akan dikumpulkan serta batas waktu pengumpulannya. Kesempatan ini juga yang digunakan penulis untuk mengarahkan hal-hal yang belum jelas kaitannya dengan proyek yang akan dibuat.

Murid menyepakai bahwa bentuk proyek yang ingin dikumpulkan berupa vidio, laporan tertulis disertai alat yang telah dibuat, dan hanya sebatas produk alat yang telah dibuat. Sedangkan batas waktu pengumpulannya murid menyepakati sebelum pelaksanaan Penilaian Akhir Semester Ganjil.

5.    Mendesain Rancangan Proyek dan Pembuatan Proyek

Tahap selanjutnya murid dikelompokkan berdasarkan pilihan KD. Kelompok yang sudah dibentuk oleh penulis selanjutnya disebar melali WA grup. Selanjutnya masing-masing kelompok diminta untuk menyepakati desain proyek yang akan dibuat. Penulis meminta disain proyek yang telah disepakati oleh masing-masing kelompok agar di kirim ke WA grup sebagai acuan dan inspirasi kelompok lain sekaligus sebagai gambaran penulis tentang proyek apa yang ingin dibuat oleh murid. Tidak lupa penulis juga memberikan masukan terhadap desain rancangan proyek. Setelah itu setiap kelompok membuat proyek dirumah sesuai dengan desain rancangan kemudian melaporkan proyek sederhana yang sudah dibuat sesuai dengan bentuk pelaporan dan batas waktu pelaporan yang telah disepakti.

Uraian diatas dalah langkah-langkah aksi nyata yang dilakukan oleh penulis. Alasan penulis melakukan aksi nyata ini adalah:

1.    Menuntun kodrat anak yakni “kodrat jaman”

2.  Menanamkan pemikirian postif kepada guru yang lain untuk selalu tetap berusaha melakukan pembelajaran sesuai jaman disemua kondisi baik kondisi normal maupun saat pandemi

3. Mencoba menerapkan pembelajaran yang melatih keterampilan abad XXI dengan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) di masa pandemi

4.    Menumbuhkan motivasi instrinsik murid untuk berkolaborasi dan kreatif walaupun pembelajaran dilakukan dari rumah


Hasil Dari Aksi Nyata

Hasil dari aksi nyata yang dilakukan oleh penulis sebagi berikut:

1.    Dari 62 murid, 40 murid (65%) memberikan respon terhadap pemilihan Kompetensi Dasar yang akan diajdikan proyek sederhana

2.    40 murid ini memilih proyek yang berbeda-beda sesuai dengan keinginannya sesuai dengan tabel dibawah ini

Topik Sesuai KD/Jumlah Murid

Titik Berat

Elastisitas

Fluida

14

17

9

3.    Bentuka proyek yang dikumpulkan murid:

No

Bentuk Proyek Yang Dikumpulkan

Banyaknya Kelompok

1

Vidio dan Produk berupa alat yang sudah jadi

3

2

Vidio

2

3

Laporan Tertulis dan Produk berupa alat yang sudah jadi

1

4

Produk berupa alat yang sudah jadi

1

Selain dari ketiga hasil tersebut, ada beberapa kelompok yang mengumpulkan dua hari setelah penulis dan murid menyepakati bentuk proyek sederhana yang akan dikumpulkan. Hal ini menendakan bahwa jika pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan keinginan murid maka murid akan melaksanakan atau mengikuti kegiatan pembelajaran secara penuh tanggung jawab.

 

Pembelajaran Yang Didapat Dari Pelaksanaan (Kegagalan Maupun Keberhasilan)

Dari pelakasanaan aksi nyata ini, pembelajaran yang penulis dapatkan adalah pembelajaran yang melatih keterampilan abad XXI tetap bisa dilaksanakan pada kondisi pandemi. Pembelajaran yang melatih keterampilan abad XXI dengan model PjBL pada kondisi pandemi bisa  dilakukan dengan metode daring atau luring serta memberikan kemerdekaan dalam menentukan proyek yang akan dibuat.

Selain itu pembelajaran yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah terlihat masih 35% murid yang belum aktif mengikuti pembelajaran PjBL secara daring maupun luring. Oleh sebab itu kiranya melibatkan kedepan penulis melibatkan wali kelas dan guru BK dalam melakukan pembelajaran PjBL secara daring atau luring pada kondisi pandemi


Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

            Aksi nyata yang dilakukan kaitannya dengan pelaksanaan pembelajaran yang melatih keterampilan abad XXI melalui model PjBL ini merupakan gambaran pelaksanaan pembelajaran pada suasana pandemi. Sehingga kedepan jika ingin melakukan pembelajaran yang sama perlu kiranya melibatkan minimal wali kelas dan guru BK untuk meningkatkan partisipasi murid dalam pembelajaran dimasa pandemi


Dokumentasi

Vidio Hasil Proyek Murid




 Gambar 1. Kolaborasi Perencanaan Dengan Guru Lain


                     


Gambar 2. Kesepakatan Bentuk Proyek dan Batas Waktu Pengumpulan

 


Gambar 3. Hasil Proyek Sederhana Keseimbangan Benda Tegar Berupa Alat



 Gambar 5. Hasil Proyek Sederhana Fluida Berupa Alat dan Laporan Tertulis


PEMBELAJARAN YANG NYAMAN DAN DINANTIKAN OLEH SELURUH MURID

Latar Belakang   K egiatan Pembelajaran adalah suatu proses yang mengandung serangkaian kegiatan ...